Ajari Si Kecil Atur Emosi

emosi pada anak

Di saat anak berteriak teriak di area pusat perbelanjaan dikarenakan anda melarang anak untuk membeli mainan atau pun tidak membelikan barang yang diinginkan oleh anak atau anak menangis sampai menjerit karena kita meminta anak untuk menghabiskan makanan sang anak.

Di saat seperti inilah saat yang tepat untuk melatih ketrampilan dalam mengatur emosi anak dan juga mengatur emosi orang tua nya sendiri. Mengapa demikian? Karena orang tua juga perlu untuk melatih agar dapat menjadi pelatih yang andal dalam mengajarkan anak dalam emngatur emosi anak.

Dalam praktiknya banyak orang tua yang mengajarkan kebiasaan mengontrol emosi anak dengan cara memarahi nya atau melarangnya.

Seperti contoh di saat anak marah karena dilarang bermain, orang tua akan berkata “kamu tidak boleh marah karena kamu sudah melanggar peraturan” dengan begitu anak akan merasa bila perasaannya tidak penting serta merasa tidak seharusnya dia marah.

Perlu diketahui bila setiap emosi yang dirasakan oleh anak merupakan sesuatu yang sangat wajar dan orang tua sebaiknya untuk tidak melarang anak merasakan sesuatu.

Menurut seorang peneliti mengatakan bila anak mengalami perkembangan kecerdasan emosi di saat dia belajar memahami, meregulasi, menggunakan dan mengatur emosinya demi kebahagiaan diri maupun kesuksesan dalam hidupnya.

Kecerdasan emosional merupakan kunci bagi orang tua dalam mengembangkan kemampuan anak dalam hal bersosialisasi, memahami serta mengikuti aturan dan meningkatkan prestasi akademik anak. Kecerdasan emosional meliputi lima karakteristik serta kemampuan dasar yang harus dikuasai dengan baik oleh sang anak. Kemampuan itu dapat di jelaskan sebagai berikut:

  • Kesadaran diri

Anak harus bisa mengidentifikasi emosi yang ia rasakan baik itu sedih, marah, kecewa dan perasaan lainnya. Anak dapat merasakan segera ketika perasaan itu datang serta dapat menyampaikan kepada orang lain apa yang sedang dirasakan.

  • Memotivasi diri

Kemampuan anak untuk mengatasi perasaan agar tidak menjadi penghalang dalam mencapai tujuan. Seperti contoh walau anak merasa tidak yakin atau kurang percaya diri ketika mengikuti sebuah lomba namun tetap bisa memperlihatkan usaha terbaiknya.

  • Menyesuaikan perasaan

Anak mampu mengasosiasikan perasaan nya sesuai dengan situasi yang dihadapi. Seperti ketika anak sedang dalam situasi yang menyedihkan anak dapat menagis atau menjadi murung dan bila diganggu temannya anak akan menjadi marah.

  • Berempati

Anak dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain dan dapat menunjukkan bahwa anak ikut bersimpati dengan perasaan orang tersebut baik dengan melalui perkataan ataupun sikap.

  • Mempertahankan hubungan dengan orang lain

Anak dapat mengatasi masalah dengan teman nya atau dengan orang lain secara baik tanpa meminta bantuan dari orang tua. Seperti contoh ketika anak bertengkar dengan temannya lalu segera melakukan sesuatu yang dapat membuat baikan kembali dengan temannya.

Dalam menghadapi problem emosi anak dapat dilihat dari tingkatan usia, berikut beberapa contohnya:

  • Usia hingga 2 tahun

Di usia ini anak biasanya masih mengalami kebingungan antara apa yang diinginkan dan apa kemampuannya. Anak masih sering terlihat kemarahannya yang meledak-ledak. Alihkan perhatian anak kepada mainan atau yang lain sampai tantrum anak mereda.

  • Usia 3-5 tahun

Dapat menggunakan konsep time-outs agar anak dapat mengatasi perasaannya serta menenangkan diri tanpa bantuan dari anda. Kemampuan dalam mengatasi diri bagi anak usia ini akan membaik sehingga frekuensi time-out pun dapat berkurang. Beri anak pujian di saat anak mampu mengatasi perasaan tanpa harus marah-marah.

  • Usia 6-9 tahun

Di usia ini anak memasuki masa sekolah, anak akan lebih mengerti konsekuensi dari tindakan yang dia lakukan. Dengan begitu mereka akan lebih memilih untuk bersikap baik. Ketika sedang dalam keadaan marah buatlah anak melakukan hal yang yang menyenangkan agar anak dapat menenangkan diri.

  • Usia 10-12 tahun

Di usia ini anak sudah lebih dapat memahami perasaan mereka sendiri. Anda dapat membantu mereka untuk menganalisis penyebab serta apa yang harus dilakukan dengan emosinya. Jelaskanlah pada mereka bila terkadang hal yang buruk di awal belum tentu di akhirnya juga buruk. Buatlah mereka untuk berpikir sebelum mereka bertindak agar tidak menyesal dikemudian hari.